Untukmu Palestina

Gaza yang gelap mencekam, Gaza yang merana
Nyawa seakan hanya bilangan angka – angka
Rintihan kesakitan itulah irama yang ada
Debu meriam mengepul menjadi panorama

Lontaran – lontaran mortir seakan menari di langit Gaza
Namun bukan tepuk tangan yang diraih olehnya
Melainkan isak tangis yang melangit di angkasa
Dan tubuh – tubuh lemah yang merintih dan meronta

Gaza yang luluh lantak
Tidak hanya oleh ledakan senjata
Tidak juga hanya oleh api membara
Dia luluh lantak oleh serakah manusia

Adakah nurani yang tersisa di sana?
Adakah yang mampu bangkitkan rasa?
Tidakkah nurani itu menghentak jiwa?
Tidakkah rasa itu menghantam di dada?

Siapa menjadi musuh siapa?
Bukankah perang adalah musuh setiap kehidupan yang ada?
Siapa menjadi kawan siapa?
Bukankah kedamaian adalah kawan setiap insan manusia?

Hai manusia, tengadahkan wajah ke angkasa
Tatap cipta dari Yang Maha Kuasa
Hidup adalah pemberian dari Nya
Sejatinya manusia adalah memuliakan pemberian Nya

Berkawan dengan kebencian adalah sia – sia
Tinggalkanlah kebencian itu jauh dari jiwa
Dekapan kemarahan menghanguskan pikiran
Lepaskanlah kemarahan itu sebelum hilang segalanya

Senyuman kedamaian tidak lagi sekedar harapan
Matahari kehidupan di Gaza akan kembali bersinar
Dan mawar putih kemanusiaan akan mekar mempesona
Berjuanglah untuk itu dan untuk kedamaian di Palestina

Advertisements

Perasaan Versus Logika

Aku dapat pergi

Aku dapat berlari

Aku dapat hindari

Bahkan aku dapat ingkari

Namun …..

Berapa lama itu harus kulakukan?

Apakah sampai akhir hayat?

Berapa sering itu harus kelakukan?

Apakah dalam setiap hembusan nafas saat ku terjaga?

Sanggupkah itu terus kulakukan?

Mungkinkah itu selalu dan selalu kulakukan?

Ini melelahkan sekali

Apakah aku harus jujur pada perasaanku?

Ataukah harus kubantah itu dengan logika?

Kutahu logika itu benar, namun apakah perasaan ini salah?

Kuharap perasaan ini salah

Kuingin logika ini benar 

Semoga yang benar akan menang

Dan tentu saja pemenangnya adalah logika

Tetapi ….. 

Sungguh mengherankan bagiku

Setiap perasaan ini mulai lemah dan menuju kekalahan, tiba-tiba dia bangkit melawan 

Perasaan merobek-robek logika

Dan perasaan melakukannya tanpa berbelas kasihan

Logika jadi lemah lagi

Logika butuh waktu untuk memulihkan diri lagi, agar dia mampu menantang perasaan lagi

Siapakah yang menang kali ini ataukah harus berakhir seri lagi?

Hahaha ….. Entahlah